Home » , , » Paguron " Ciung Wanara " Seni Budaya yang Terabaikan

Paguron " Ciung Wanara " Seni Budaya yang Terabaikan

Ditulis Oleh Unknown Tanggal 25 Juni 2013 | 23.36


Seni dan budaya yang ada di Desa Mandalamekar memang cukup beragam dari mulai Angklung, Calung, Jaipong, Wayang Golek dan Kesenian yang kini ramai diperbincangkan adalah Paguron Pencak Silat, dalam hal ini Desa Mandalamekar yang kaya dengan beragam kesenian dan Budaya sering kali dan selalu siap Tampil ke Depan.
Kesenian yang terdapat di Desa Mandalamekar Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung seharusnya perlu diperhitungkan keberadaannya oleh pemerintah, akan tetapi dengan segala keterbatasan maka kesenian inipun tidak mampu berjalan secara maksimal atau apa yang diharapkan masih belum terlaksana, Admin mencoba mewawancarai salah satu Tokoh Masyarakat yang sekaligus sebagai Wakil Ketua DPC P3S Gagak Lumayung serta Sebagai Guru Besar Paguron Ciung Wanara.
Menurut Dase A Suhandi (Guru Besar Ciung Wanara) ditemui di Rumahnya Jl. Panyandaan RT 01 RW 08 Desa Mandalamekar bahwa maju mundurnya Seni dan Budaya Khususnya di Desa Mandalamekar tergantung pada adanya fasilitas penunjang dalam hal seni tersebut, “ Memang kalo dikatakan berat ya berat juga menjadi Guru atau disebut juga Sesepuh Paguron, disisi lain harus membesarkan Paguron tersebut dengan segala cara agar supaya Paguron Ciung Wanara menjadi Paguron yang benar benar berdiri kokoh dan menjadi Paguron yang bias menjadi Contoh bagi Paguron lain. “ Tegas Dase A Suhandi
Melihat sejarah kebelakang berdirinya Paguron-paguron yang ada di Desa Mandalamekar tidak lepas dari peran serta Pupuhu-pupuhu atau Sesepuh-sesepuh yang ada di Desa Mandalamekar, pada sekitar Tahun 1950 adalah Cikal bakal berkembangnya Perguruan Pencak Silat kala itu ialah Perguruan Pencak Silat yang dipimpin oleh Carim (Alm), sekitar Tahun 1962 diteruskan oleh War’i.
Kini setelah wafat nya War’i tidak sedikit jumlanya penerus selanjutnya,  antara lain Kanda Wijarsi yang semasa hidupnya akrab disapa Abah Kanda.
Abah Kanda meneruskan langkah generasi sebelumnya  sekitar tahun 1970 dengan nama Paguron Pusaka Mekar Sajati.

Selanjutnya penerusnya yang kini telah almarhum diantaranya Tisna (Alm), Aman serta Bah Datam (Alm) yang langsung memberi  nama Paguron dengan nama Gagak Lumayung. Setelah Guru-guru besar tersebut tiada maka Tambuk Pimpinan DPC P3S Gagak Lumayung tersebut kini dipimpin oleh Herman, sedangkan Wakil ketua DPC Gagak Lumayung tersebut adalah Dase A Suhandi dengan nama lain Paguronnya adalah Pusaka Mekar Sajati.
Seiring waktu berjalan Paguran yang ada di wilayah Desa Mandalamekar telah memberikan Konstribusi pada Kecamatan Cimenyan, pada dasarnya Paguron yang ada di Wilayah Desa Mandalamekar banyak turut serta pada event baik tingkat Kabupaten bahkan tingkat Provinsi.
Akan tetapi di tegaskan oleh Guru Besar Paguron Ciung Wanara bahwa untuk saat ini Paguron yang ada di Desa Mandalamekar mengalami kendala yang sangat serius yaitu belum adanya tempat untuk berlatih Kesenian yang memadai seperti Gedung serbaguna untuk penunjang Seni Budaya yang ada di Wilayah Desa Mandalamekar.
“ Untuk saat ini Saya sebagai Sesepuh Ciung Wanara merasa prihatin sebab terbatasnya tempat untuk berlatih sedangkan antusias putra-putri yang ada di wilayah Kecamatan Cimenyan cukup besar pada Pencak Silat ini, oleh sebab itu mungkin latihan-latihan yang biasanya dilakukan tiap malam  kini nasibnya hingga berbulan-bulan  tidak lagi kami lakukan dikarnakan cuaca yang tidak mendukung, apalagi pada musim penghujan, aka terpaksa kami tidak bias berlatih, dan kami sangat mengharapkan bantuan dari Pemerintah setempat maupun dari Pemerintah Daerah untuk bisa bantuan demi terjaganya Seni Budaya ini, terlebih agar mengupayakan Pembangunan Gedung Serbaguna demi lancarnya Seni dan Budaya yang ada di Desa Mandalamekar “ tutur Dase A Suhandi.
Ijang Suryana selaku Kades membenarkan adanya kendala untuk kemajuan seni budaya yang ada di Desa Mandalamekar Kecamatan Cimenyan itu, “ Memang dulu saya pernah mengajukan Sarana dan Prasarana tersebut lewat Aspirasi Desa ke Tingkat Provinsi,  akan tetapi sampai saat ini masih belum ada realisasinya, apa yang dirasakan oleh pimpinan Paguron yang ada tentu dapat saya rasakan juga, bahwa agar Seni Budaya Pencak Silat ini tetap dapat dipertahankan dan berkelanjutan hingga kemasa berikutnya, tentu kita harus turut serta berjuang agar dengan kondisi yang ada saat ini antara seni budaya dengan jaman yang modern tentu harus diseimbangkan salahsatunya dengan saran prasarananya seperti Gedung Kesenian, ujar Ijang, akan tetapi sekali lagi saya tegaskan saya akan terus berupaya untuk selalu mencari jalan keluarnya itu semata-mata demi kemajuan Seni dan Budaya Khususnya yang ada di Desa Mandalamekar Kec. Cimenyan Kab. Bandung “ pungkas Ijang Suryana optimis.


Bagikan Melalui : :

Posting Komentar

Komentar, Kritik dan Saran Anda Akan Memotivasi Kemajuan Desa Mandalamekar

 
© 2010. Desa Mandalamekar - Hak Cipta di Lindungi Undang - Undang